Akal budi & kebijaksanaan, jadi bekal hidup yang singkat

Musa, tokoh besar dalam sejarah perjalanan iman umat Israel mencermati keterbatasan kuasa manusia dalam bayang-bayang Allah yang memiliki kuasa yang tidak terbatas. Dalam doa yang diyakini ditulis olehnya di Mazmur pasal 90, dengan rendah hati Musa merasa begitu kecil, singkat dan ringkih. Pengakuan imannya berlanjut pada perenungan batin yang juga mengundang semua orang berani mempertanyakan kesediaan diri untuk melakukan tindakan-tindakan nyata yang menunjukkan keterarahan diri dalam sikap tunduk dan takluk pada kekuasaan kasih Allah.

Kalaupun hidup manusia itu begitu kecil dibandingkan dengan ciptaan lainnya, singkat dan ringkih, tetapi biarlah dalam segenap keterbatasan itu, jejak-jejak kebijaksanaan Allah yang kekal tertoreh di hati dan mencerahkan akal budi, sewaktu manusia mengisi hari-hari dalam kehidupannya dengan karya-karya yang tidak memicu murka Allah.

Setiap perjalanan membutuhkan bekal. Biarlah dalam perjalanan hidup kita hari ini, kita tercerahkan dengan nasihat Musa untuk tidak melupakan bekal yang begitu berharga dalam hidup yang singkat ini, yaitu akal budi dan kebijaksanaan. Dengan kekayaan anugerah Allah, bekal itu akan terkelola demi hadirnya kenyataan Allah -yang adalah Kasih- dalam setiap perbuatan-perbuatan tangan kita menghitung dan mengisi hari-hari.

Ya Tuhan, ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Amin.